Kamis, 09 Februari 2012

Kebutuhan Gizi Lansia

Kebutuhan Gizi Lansia

Setiap  mahluk  hidup  membutuhkan  makanan  untuk  mempertahankan
kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh
untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi
yang  diberikan  dengan  baik  dapat  membantu  dalam  proses  beradaptasi  atau
menyesuaikan  diri  dengan  perubahan-perubahan  yang  dialaminya  selain  itu  dapat
menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.
Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari
kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan
tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.
Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok
besar, yaitu :
1.  Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :
a.  Bahan makanan  yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum,
ubi, roti, singkong dll, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu
dll.
b.  Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega,
margarine, susu dan hasil olahannya.
2.  Kelompok zat pembangun
Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein,
baik  protein  hewani  maupun  nabati,  seperti  daging,  ikan,  susu,  telur,  kacang-
kacangan dan olahannya.
3.  Kelompok zat pengatur
Kelompok  ini  meliputi  bahan-bahan  yang  banyak  mengandung  vitamin  dan
mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.



1.  Berkurangnya  kemampuan  mencerna    makanan  akibat  kerusakan  gigi  atau
ompong.
2.  Berkurangnya  indera  pengecapan  mengakibatkan  penurunan  terhadap  cita  rasa
manis, asin, asam, dan pahit.
3.  Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
4.  Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
5.  Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
6.  Penyerapan makanan di usus menurun.


1.  Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota
besar.  Kebiasaan  makan  banyak  pada  waktu  muda  menyebabkan  berat  badan
berlebih, apalai pada lansia penggunaan  kalori berkurang karena berkurangnya
aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk
mengurangi makan.
Kegemukan  merupakan  salah  satu  pencetus  berbagai  penyakit,  misalnya  :
penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.
  1. Gizi kurang
  2. Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga
  3. karena  gangguan  penyakit.  Bila  konsumsi  kalori  terlalu  rendah  dari  yang
  4. dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai
  5. dengan  kekurangan  protein  menyebabkan  kerusakan-kerusakan  sel  yang  tidak
  6. dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun,
  7. kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
  8. 3.  Kekurangan vitamin
  9. Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan
  10. kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan
  11. menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
  12.  
  13. 1.  Penimbangan Berat Badan
  14. a.  Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai
  15. peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB
  16. lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan
  17. penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan
  18. berat badan.
  19. b.  Menghitung berat badan ideal pada dewasa :
  20. Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB
  21. kurang dari 160 cm, digunakan rumus :
  22. Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
  23. Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang
  24. 2.  Kekurangan kalori protein
  25. Waspadai  lansia  dengan  riwayat  :  Pendapatan  yang  kurang,  kurang
  26. bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan
  27. mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan
  28. makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu
  29. makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal
  30. ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih
  31. mudah sakit dan tidak bersemangat.
  32. 3.  Kekurangan vitamin D
  33. Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari,
  34. jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang
  35. banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.
  36.  
  37.  
  38. Perencanaan makan secara umum
  39. 1.  Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang
  40. terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
  41. 2.  Perlu  diperhatikan  porsi  makanan,  jangan  terlalu  kenyang.  Porsi  makan
  42. hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering
  43. dengan porsi yang kecil. Contoh menu :
  44. Pagi   : Bubur ayam
  45. Jam 10.00 : Roti
  46. Siang   : Nasi, pindang telur, sup, pepaya
  47. Jam 16.00 : Nagasari
  48. Malam  : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang
4.  Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan
atau air. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan.
5.  Periksa kerekatan selang, jika selang longgar beritahu perawat.
6.  Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera.
7.  Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering.

1.  Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) :
Nasi, bubur beras, nasi jagung, kentang, singkong, ubi, talas, biskuit, roti , crakers,
maizena, tepung beras, tepung terigu, tepung hunkwe, mie, bihun.
2.  Bahan makanan sumber lemak (zat energi) :
Minyak goreng, minyak ikan, margarin, kelapa, kelapa parut, santan, lemak daging.
3.  Bahan makanan sumber protein hewani :
Daging sapi, daging ayam, hati, babat, usus, telur, ikan, udang.
4.  Bahan makanan sumber protein nabati :
Kacang ijo, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, oncom, tahu, tempe.

1.  Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter.
2.  Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. Penting
diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis.
3.  Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan.
4.  Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde.
5.  Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya, misalnya 3 x 1
berarti obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam ; jika 2 x1 berarti obat diberikan
setiap 12 jam sekali.\


Manusia  perlu  minum  untuk  mengganti  cairan  tubuh  yang  hilang  setelah
melakukan aktivitas. Air sangat besar artinya bagi tubuh kita, karena air membantu
menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya berbagai penyakit disaluran kemih
seperti kencing batu, batu ginjal, dll. Air juga sebagai pelumas bagi fungsi tulang dan
sendi. Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah sembelit karena untuk
mengolah makanan dalam usus sangat dibutuhkan air, tentu saja tanpa air yang cukup
kerja usus tidak dapat maksimal dan timbullah sembelit.
Air mineral atau air putih lebih baik daripada kopi, teh kental, softdrink, alkohol,
es, maupun sirup dan dianjurkan minimal kita minum air putih 1.5 sampai dengan 2
liter/hari.  Minuman  seperti  kopi,  teh  kental,  softdrink,  alkohol,  es,  maupun  sirup
bahkan tidak baik untuk kesehatan dan harus dihindari terutama bagi para lansia yang
mempunyai penyakit-penyakit tertentu seperti kencing manis, darah tinggi, obesitas,
dan jantung.

1.  Berat  badan  (lemak  tubuh)  cenderung  meningkat  dengan  bertambahnya  usia,
sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga komposisi air dalam
tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau anak-anak dan
bayi.
Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Terjadi penurunan kemampuan
untuk memekatkan urin, mengakibatkan kehilangan air yang lebih tinggi.
Terdapat  penurunan  asam  lambung,  yang  dapat  mempengaruhi  individu  untuk
mentoleransi  makanan-makanan  tertentu.  Lansia  terutama  rentan  terhadap
konstipasi  karena  penurunan  pergerakan  usus.  Masukan  cairan  yang  terbatas,
pantangan  diit,  dan  penurunan  aktivitas  fisik  dapat  menunjang  perkembangan
konstipasi. Penggunaan laksatif yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengarah
pada masalah diare.
Lansia  mempunyai  pusat  haus  yang  kurang  sensitif  dan  mungkin  mempunyai
masalah dalam mendapatkan cairan ( misalnya gangguan dalam berjalan ) atau
mengungkapkan keinginan untuk minum (misalnya pasien stroke).

Masalah  cairan  yang  lebih  sering  dialami  lansia  adalah                       ,  hal  ini  berhubungan  dengan  berbagai  perubahan-perubahan  yang  dialami
sia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia, penurunan fungsi
jal untuk memekatkan urin dan penurunan rasa haus.


Tanda – tanda vital
a. Terjadi peningkatan suhu tubuh
b. Dapat terjadi peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan
(normal : 14 – 20 x/mnt)
c. Peningkatan frek. denyut nadi (normal : 60-100 x/mnt), nadi lemah, halus
d. Tekanan darah menurun
Pemeriksaan Fisik :
a. Kulit kering dan agak kemerahan
b. Lidah kering dan kasar
c. Mata cekung
d. Penurunan BB yang terjadi scr tiba2/drastis
e. Turgor kulit menurun (Lansia kurang akurat)
Perilaku :
a. Penurunan kesadaran
b. Gelisah
c. Lemah
d. Pusing
e. Tidak nafsu makan
f. Mual dan muntah
g. Kehausan (pada lansia kurang signifikan)
Terjadi penurunan jumlah urin

Tanda –tanda vital
a. Terjadi penurunan suhu tubuh
b. Dapat terjadi sesak nafas
c. Denyut nadi teraba kuat dan frekuensinya meningkat
d. Tekanan darah meningkat
Pemeriksaan fisik :
a. Turgor kulit meningkat (lansia kurang akurat)
5
b. Edema
c. Peningkatan BB secara tiba-tiba
d. Kulit lembab
Perilaku :
a. Pusing
b. Anoreksia / tidak nafsu makan
c. mual muntah
Peningkatan jumlah urin (jika ginjal masih baik)



Rumus :
FTcairan×

N =

)(menitW



Keterangan :
N  = Jumlah tetesan dalam menit
FT = Faktor tetes ( biasanya 15 )
W  = Waktu pemberian dalam menit
cairan  = Jumlah cairan dalam ml

Contoh :
Ibu E mendapatkan cairan infus 500 ml dan harus habis dalam 8 jam, berapa tetes
cairan infus yang harus diberikan ?


Jawab :
cairan    = 500 ml
Faktor tetes  = 15
W      = 8 jam x 60 menit

ml 15500 ×
N /166.15 ˜=
mnttetes=
menit480

Darmojo, R. Boedhi.,dkk.1999. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Gallo, Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta : EGC

Nugroho, Wahjudi.2000. Keperawatan Gerontik.Jakarta : EGC

Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4.Jakarta :EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar